Virus Corona Ubah Kesuksesan Atalanta Jadi Malapetaka

Virus Corona Ubah Kesuksesan Atalanta Jadi Malapetaka

Situs bandar judi bola ibcbet indinesia terbaik – Atalanta mampu melaju ke perempatfinal Liga Champions. Namun, kesuksesan ini berganti duka akibat laga La Dea menjadi sebab merebaknya Virus Corona di Bergamo.

Kiprah Atalanta di Liga Champions musim ini mengejutkan banyak pihak. Mereka sukses menembus babak perempatfinal usai mengandaskan Valencia di 16 besar.

Mereka unggul agregat 8-4 dari Kelelawar Hitam. Hasil ini didapat oleh Atalanta usai menang 4-1 di San Siro pada leg pertama dan unggul 4-3 ketika bertandang ke Mestalla.

Namun, keberhasilan Atalanta ini menghadirkan dua hal yang bertolak belakang bagi Kota Bergamo. Suka Cita yang hadir dengan cepat berganti dengan kabar duka karena laga Atalanta vs Valencia disebut menjadi sumber merebaknya Virus Corona di Bergamo.

Baca juga : ‘Serie A Bisa Saja Mulai Digeber Lagi Oktober’

Kapten Atalanta, Alejandro Gomez meyakini hal tersebut karena saat laga leg pertama di San Siro, ribuan fan Atalanta hadir dari Bergamo. Bergamo berada di wilayah Lombardy daerah terparah terdampak Virus Corona di Italia.

Apalagi saat itu, penyebaran Virus Corona belum ditangani dengan serius di Italia. Orang-orang disana juga masih menganggap remeh penyakit yang pertama kali muncul di China tersebut.

“Bermain di pertandingan itu begitu mengerikan. Tidak ada cek di Valencia, semuanya santai,” kata Gomez dikutip dari Football Italia.

“Saya pikir situasi di Bergamo hari ini juga ada hubungannya dengan pertandingan Liga Champions di San Siro. Ada 12.000 penduduk di sini dan 45.000 orang berada di stadion hari itu.”

Hati Gomez begitu hancur melihat penderitaan warga Bergamo akibat Virus Corona. Kegembiraan yang dihadirkan keberhasilan Atalanta kini lenyap di Kota Bergamo

“Kami telah membuat seluruh kota bahagia dalam empat tahun terakhir. Namun, apa yang kami alami akhir-akhir ini adalah sesuatu yang mengerikan, yang masih belum dapat saya terima,” ujar Gomez menambahkan.

“Kami adalah negara dengan kasus terbanyak setelah China, itu hal yang aneh. Orang-orang di Bergamo seharusnya bahagia sekarang karena bangga dengan apa yang dilakukan timnya. Namun saat ini sebaliknya, kita harus fokus pada hal lain dan berpikir tentang para keluarga yang menderita,” jelasnya.